Sebuah Balas Dendam


image

Tulisan yang saya buat kali ini jauh dari kebiasaan saya menulis yang “serius” . Tulisan kali ini merupakan sebuah chain posting/tulisan berantai yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bogor (Bogor). Tulisan atau tepatnya cerita telah dimulai oleh teman-teman Blogor lainnya. Bagian pertama ditulis oleh kang Matahari Timoer (MT), kedua ditulis oleh kang Anka, ketiga ditulis oleh kang WKF, kekempat ditulis oleh Falla dan tulisan saya merupakan tulisan terakhir dan diharapkan menjadi ending dari rangkaian sebelumnya.

Biar nyambung silakan baca secara urut ya Smile (Sekalian blogwalking)

***

Cerita sebelumnya:

“Iya benar Pak, kemarin malem kami bertiga makan bareng dengan kakek penjaga rumah ini di restoran MJ Pakuan. Kami memanggilnya mang Odang” terang Dani.
“Kalau begitu mari ikut kami, ada sesuatu yang harus kalian lihat di kantor Polisi.” ajak pak jayus.

Dengan perasaan takut dan penasaran mereka bertiga mengikuti petugas masuk kedalam mobil polisi.

***

Mobil polisi yang mengangkut 3 sekawan melaju menembus jalan yang nampak mulai basah oleh hujan yang mulai turun. Jaja, Budi dan Dani kelihatan cemas. Ribuan tanda tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi berputar-putar di benak mereka. Tapi tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Sementara polisi yang duduk bersama mereka pun terdiam sambil merem melek menikmati goyangan roda yang membelah jalan Pajajaran.

***

Di tempat lain malam hari sebelum polisi datang. Cuaca pegunungan yang cukup jauh dari keramaian terasa angker. Kanan kiri jalan nampak pohom-pohon rindang yang menambah seram suasana malam. Sementara hujan turun cukup deras dengan sesekali diiringi petir.

image

Di kegelapan malam tampak dua sosok laki-laki, dari kilauan petir terlihat tubuh mereka basah oleh air hujan yang turun. Dua sosok yang tidak jauh perawakannya tersebut terlihat berdiri berhadap-hadapan. Terdengar suara bentakan yang  saling bersahutan antar keduanya memecah suasana malam yang berisik oleh siraman air hujan. Salah satu dari mereka terlihat menggunakan penutup kepala ala ninja. 

“Akhirnya kutemukan kau wahai manusia bejat…” kata si lelaki ninja sambil tangannya mengayun mengarah ke kepala lawannya. “Siapa kau..sebenarnya??” kata lelaki satunya sambil mengelak menghindari serangan lawannya. “Jangan banyak omong, kau harus menebus semua kelakuanmu!! Rasakan ini… “ kaki si lelaki ninja mencoba  melesatkan tendangan ke arah  lawannya dan tepat mengenai dada lawannya. Tubuh si lelaki terhuyung dan akhirnya terjungkal ke belakang. Si lelaki ninja tidak menyia-nyiakan kesempatan ia coba mengejar dan kembali mengarahkan pukulan ke arah muka lawannya. Namun si lelaki masih bisa menghindar dengan memiringkan tubuhnya.

Perkalahian dua orang ini semakin tidak terarah dan membabi buta. keduanya saling bernafsu untuk membunuh satu sama lainnya.

Sampai akhirnya, “Rasakan ini…” kata si lelaki, sambil mengayunkan sebilah kayu di tangannya ke arah lelaki ninja. Kali ini si lelaki ninja tidak sempat mengelak, pukulan kayu tersebut tepat mengenai perutnya dan iapun terjatuh. Merasa di atas angin si lelaki langsung melompat dan menduduki tubuh lelaki ninja yang masih menahan sakit.

Tangan kirinya mencoba mencekik leher si lelaki ninja sementara tangan kanannya masing memegang kayu. “Mati kau…!!” si lelaki kembali mengayunkan kayu, kali ini yang menjadi sasarannya kepala si lelaki ninja. Namun sebelum kayu itu sampai ke kepala tiba-tiba si lelaki berteriak keras “Aaaaaaaaaahhhhhhh!!!!” tubuhnya terjungkal ke belakang dan tangannya memegang perut yang sudah bersimbah darah.

***

Mobil polisi itu masih melaju membelah hujan yang semakin deras. Selang beberapa lama mobilpun berbelok ke arah kiri dan memasuki kantor polisi. Pak jayus yang tadi menanyai Jaja, Budi dan Dani turun duluan lalu salah satu temannya menyuruh mereka turun menyusul.

“Silakan duduk!..!!” ujar salah satu polisi bernama Asep, sambil menunjuk ke kursi yang ada di hadapannya. Jaja, Budi dan Dani pun kemudian duduk sambil sesekali mereka mengusap tangannya yang basah kena air hujan. Mereka juga tampak gugup dan cemas dengan peristiwa yang menimpa mereka.

“Maaf pak sebenarnya ada apa bapak memanggil kami?”, kata Budi memberanikan diri. Ia tak ingin penasaran yang menyelimuti di kepalanya berlarut-larut. “Sebelumnya kami mohon maaf, kami memanggil kalian bertiga terkait kejadian tadi pagi.” “Kejadian apa pak?” Jaja juga semakin penasaran. “Kalian tenang dulu” kata Pak Asep. “Tunggu sebentar”, kemudian Pak Asep pun berdiri dan berjalan ke arah meja di pojok ruangan. Ia pun mengambil beberapa helai foto.

“Coba perhatikan, apakah kalian mengenal orang dalam foto ini” kata Pak asep sambil menyodorkan foto di tangannya. Budipun menerima dan secara serentak Ketiganya berteriak “Astaghfirullahaladzim…..!!!!",Mang Odang… Tidaaakk!! Dani kelihatan syok, sementara kedua temannyapun sangat kaget ketika melihat foto itu.

Itu Foto Mang Odang Pak, penjaga rumah yang kami tempati… sebenarnya ada apa  Pak???” kata Budi sambil matanya tak lepas dari foto yang ia pegang. “Bebarapa gurandil menemukannya dalam kondisi tak bernyawa di daerah Pongkor tadi pagi. kami menemukan sebuah gantungan kunci yang ada tulisan Cikuray 13, makanya kami memanggil kalian” kata Pak Asep  menjelaskan.

“Perlu kalian ketahui ini merupakan kejadian kelima dalam bulan ini dengan kondisi korban mengenaskan dengan isi perut hilang. Sebelumnya udah ada empat korban yang sama tapi sampai kini kami belum bisa menemukan siapa pelakunya”. tambah Pak Asep.

“Jadi yang di kamar Mang Odang itu adalah…..” Jaja, Budi dan Dani saling berpandangan dan jelas tergambar ketakutan di wajah mereka. “Ada apa dengan kamar Mang Odang?” pak Asep tampak heran. “Kami menemukan usus di kamar mang Odang Pak.” Budi memberanikan diri menjawab meski jelas kengerian menyelimuti wajahnya. “Tadi kami belum sempat menceritakan ke Pak Jayus karena kami terburu-buru pak” kata Budi.

“Seperti korban-korban sebelumnya..” Pak Asep bergumam. “Empat Korban sebelumnya juga memiliki ciri yang sama, isi perutnya hilang dan ditemukan di kamarnya. Apakah ada kain hijau juga disana?” pak Asep coba menebak. “Ada pak”, ketiganya hampir serempak menjawab. “Benar-benar orang yang sama pelakunya” pak Asep kelihatan kesal. “Tolong masukkan ke laporan Pak Har!”, kata Pak Asep sambil memberikan isyarat kepada temannya yang dari tadi dengan cermat mengetikkan semua pembicaraan Pak asep dengan Jaja Budi dan Dani.

“Baik apakah benar tadi malam kalian pergi bareng ke warung makan MJ dengan mang Odang?” Pak Asep melanjutkan pertanyaannya. “Benar pak tadi malam kami berempat makan malam bareng, cuma ketika pulang Mang Odang pergi duluan dan ia bilang ada janji dengan temannya yang ia temui sore kemarin Pak”. “Kalian tahu siapa yang ia temua sore itu?” Pak Asep penasaran. “Kami tidak tahu pak, cuma saya sempat moto mang odang ketika tadi sedang bercakap dengan seseorang” kata Dani sambil mengambil kamera yang selalu ia bawa kemana-mana. “Ini fotonya pak” kata Dani sambil menunjukan layar kameranya ke Pak Asep. “Sayang muka orangnya tertutup kepala Mang Odang” kata pak Asep sambil meneliti foto yang ditunjukkan Dani.

***

Sore harinya rumah besar bercat putih itu tampak ramai, banyak orang yang datang menonton. Sementara beberapa polisi masih ondar mandir meneliti kamar mang Odang dan mengumpulkan barang bukti. Paman Budi yang dari Jakartapun datang ketika di telpon Budi mengenai kejadian yang menimpa mang Odang.

***

Pagi cerah. Udara segar. Matahari mulai menampakkan dirinya, sinarnya malu-malu mengintip dari balik pegunungan. Embunpun masih enggan untuk berpisah dengan ujung-ujung dedaunan.

Di sebuah tempat di atas bukit daerah Tamansari tampak seorang lelaki berjaket dan bertopi hitam berjalan menanjak menelusuri jalan setapak yang terlihat kotor oleh daun-daun yang berguguran. Raut mukanya sulit ditebak. Ia bejalan ke arah sebuah komplek kuburan yang ada di puncak bukit tersebut. Setelah sampai, lama ia tertegun, matanya menatap sebuah kuburan yang kelihatan sudah lama namun terawat. Tiba-tiba dari matanya meleleh airmata.

image

“Setelah lama kutahan, akhirnya kulaksanakan juga semua permintaanmu. Semoga kau damai disisiNya. Jangan ganggu lagi mereka yang tidak berdosa. Percayalah cintaku hanya untukmu” gumam lelaki itu kemudian ia berjongkok. Dari balik bajunya ia mengeluarkan sekuntum mawar merah dan meletakkan di pusara yang tertulis nama “Intan Ayu”

– THE END-

Bogor, senin 14/11/2010 00:35

Iklan

23 pemikiran pada “Sebuah Balas Dendam

  1. Ping balik: Cerita Fiksi dari Blogorian | blogor.org

  2. dendam itu gak penting……justru qta hanya bsa berdoa aja….krn dendam hanya buat sakit hati….lbh baik doakan dy…

    Suka

  3. wah..ini toh endingnya, lugas juga 😀
    tapi yg asiknya itu sesekali bikin anchor ke blog yg lain, wah, mau juga dong..jadiin tukang cimol atau tukang parkir kek gitu..hehe
    good job

    Suka

  4. hehehehehe.. endingnya gak terduga.. dibenak saya.. kang dian bakalan memunculkan tokoh si Intan Ayunya… yak kurang lebih berbau mistisnya lebih kental…

    eh gak taunya ontohod sbg kekasih Intan Ayu yang telah membalaskan dendam itu semua…

    Mantaff!

    Suka

  5. Ping balik: Chain Posting: Bermain Dalam Tulisan | blogor.org

  6. Hebat kang, benar2 habat.. saya pikir butuh cerita yangs angat panjang untuk menyelesaikan sekuel ini..
    heheh ternyata ditangan kang dian semuanya bisa di endingkan dengan logis..
    heheheeh

    Suka

  7. Hehe… Jadi polisi saya… Untung nggak jadi perampoknya… 🙂

    Idem sama kang MT, waktu awal2 kita2 yg sangat jarang membuat tulisan serupa cerpen, benar2 dibuat ‘gugup’ apakah sanggup atau tidak.. Tapi ternyata fakta membuktikan, jika mau mencoba hasilnya di luar dugaan, buka? Seperti pamungkas kategori Mistis ini.. Kang Dian hebat!

    Suka

  8. woooooww….
    benar-benar tak kisah yang tak terduga namun logis. ini sebuah ending yang tak saya bayangkan sebelumnya. sepertinya tema mistis ini akan menjadi rangkaian cerita yang paling digemari.

    chain posting benar2 bisa membukakan mata kita, bahwa setiap orang punya kemampuan yang tertutupi oleh kesehariannya. seperti blog kang Dian yang biasanya berisi artikel faktual, tau-tau bisa menyajikan sebuah karya fiksi yang “aduhai”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s